Aku sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Aku pasti akan menemukan tempat tersebut. Namun halte itu… adalah sebuah persinggahan yang amat menggoda.
Hari ini, panas begitu terik. Aku baru saja turun dari bus yang entah kenapa, menyesatkanku ke tempat ini. Asing… namun ramah. Halte itu berdiri tak jauh. Biru, kelabu, dan mengundangku.
“Singgahlah…”, katanya.
Ragu, aku mendekatinya; namun ramahnya memikatku. Halte itu bagai oase padang pasirku. Berada di dalamnya sungguh membuat nyaman. Langsung saja aku mersa betah. Aku tak ingin pernah beranjak lagi.
Hari ini, panas terik. Lalu hujan datang dan pergi. Angin kencang mereda. Daun-daun gugur, dan salju turun… Aku masih dalam naungan halte itu; kami saling bahagia. Tahu-tahu saja, tanganku sudah mulai mencoretkan namaku di tubuhnya.
“Agar kau ingat padaku, kalau suatu hari nanti akhirnya aku pergi,” bisikku.
“Jangan pergi,” bisiknya memohon. Tapi aku tersenyum dan diam saja.
Hari ini, panas terik. Lalu badai menyapa. Kabut menari-nari, dan tiba-tiba saja asap berwarna hitam membubung. Aku dalam naungan halte yang tubuhnya sudah terkoyak. Ia malu, dan aku sedih.
“Pergilah,” perintahnya dingin.
Aku menatapnya kaget.
“Kau sedang menuju suatu tempat,” katanya dengan wajah yang terpaling.
“Tapi sekarang sedang hujan,” ujarku bingung. Apakah benar ia mengusirku?
Tapi ia hanya menjawab, “Aku tahu,” lalu diam. Diam yang tidak enak.
“Kau ingin aku pergi?”
Ia diam.
Aku memeluk salah satu tiang penyangganya. Dingin. Rasa nyaman telah menguap dari nadinya. Aku tidak mengerti. Tapi aku tidak tahu lagi, jadi aku pergi. Aku berjalan keluar menuju hujan, dan berdiri tak jauh di sampingnya, memandanginya. Ia tak menoleh. Kuputuskan untuk tetap di sana sampai bus berikutnya datang. Namun, bus yang tepat datangnya masih akan lama. Sambil menunggu bus itu, aku masih suka diam-diam meliriknya yang bisu dan tetap memalingkan wajah.
Saat bus itu datang, aku naik dengan perlahan, Ragu-ragu. Tak yakin akan sanggup meninggalkan halteku. Tapi aku tahu ia tidak akan menoleh… tak pernah lagi; tak merasa kehilangan. Jadi aku juga berusaha menguatkan diri untuk tak akan pernah lagi meliriknya.
Sesekali, aku masih teringat akan namaku yang aku tulis di dindingnya. Tapi tak mengapa. Aku sudah berada dalam bus yang tepat, dalam perjalanan menuju tempatku yang sebetulnya.
Hanny, 14 November 2009.
Halte itu