Aku sayang padanya, sungguh. Namun, singkat kata, kami putus. Kami putus secara baik-baik. Setidaknya, begitulah maksudku; namun bagi dia, sikapku yang makin lama menjauh serta makin dingin padanya merupakan bukti bahwa kami tidak putus secara baik-baik. Dia masih saja menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Dia merasa dialah penyebab semua ini. Dia merasa tidak cukup baik untukku. Kenyataannya, bagiku, justru sebaliknya. Aku yang merasa bersalah… Aku masih terlalu egois, belum sanggup untuk berbagi hidup. Aku juga merasa aku telah banyak merusak dirinya, seperti sebuah kalimat, “Lebih mudah menjatuhkan malaikat dari surga, daripada memasukkan iblis kedalamnya,”. Lama kelamaan, ia pun menjauh. Mungkin ia sudah mengerti bahwa tak ada gunanya lagi merasa bersalah. Ia bilang, lebih baik membuka lembaran baru. Aku setuju. Dalam kondisi yang membuat kami saling menjauh ini, kami sepakat untuk berteman. Mungkin, tak bisa seperti dulu… tapi tetap teman.
Waktu terus berpacu, dan waktu akhirnya mempertemukan kami lagi. Ia sudah bersuami. Sudah pula memiliki anak. Satu, dan baru beberapa bulan. Aku dan beberapa kawan kami (dulu kami sempat memiliki ‘Geng Bujang’, dan ia termasuk salah satu anggotanya) datang berkunjung ke rumahnya dengan niatan menjenguk anaknya. Suaminya sedang tidak ada di rumah. Riuh rendah suara tamu-tamu itu memuji kecantikan anak pertamanya, serta saling berebut untuk mencoba menggendongnya. Tak lama, bayi itu sudah begulir dari tangan satu ke tangan lain yang kelewat bersemangat. Kulirik wajahnya yang tersenyum. Agaknya ia bahagia karena kehadiran anaknya diterima dengan baik di antara kawan-kawan lamanya. Namun, lama-lama senyum itu memudar. Ia menggigit bibir. Kemudian, serta merta bayi yang masih dipergulirkan itu menangis. Kami terkejut; merasa bersalah, dan tak tahu harus bagaimana). Ia juga terkejut.
“Barusan,” dia berkata dengan suara pelan, “Aku berharap semoga bayiku menangis agar bisa dikembalikan ke tanganku. Dan tahu-tahu saja… ia menangis,”
“Ikatan batin yang bagus,” ujar salah seorang teman kami, mengembalikan bayi tersebut sambil tersenyum.
“Aku senang kalian menyukai bayiku. Tapi lama-lama, aku cemburu karena… yah… dia kan bayiKU,”
“Kami mengerti. Ibu-ibu muda memang biasanya sangat over-protektif terhadap bayinya,”
Ia tersenyum meminta maaf, lalu mengecup bayinya lembut, “I love you,” bisiknya di telinga mungil itu.
Lalu, begitulah, tiba-tiba getaran itu melandaku. Getaran yang membuat jantungku berdebar hebat. Apakah selama ini aku buta? Apakah selama ini aku tuli? Ratusan kali aku telah mendengar kata-kata itu terucap dari bibirnya. Namun, baru kali ini kata-kata itu membuatku terpana dan meleleh. Kata-kata yang bahkan sudah tak lagi tertuju padaku. Aku merasa aneh. Mengapa aku baru menyadari betapa indahnya kata-kata itu saat ia mengucapkannya pada orang lain…?!
Ia MEMANG tertakdir untuk orang lain.
(belum selesai)
Hanny, 11 November 2009
Am I Blind or Deaf?