Posted 2 years ago
No Way Train

“Karcis…!” lengking seorang pria di suatu tempat di dekatku.

Perlahan aku membuka mata, dan samar-samar terlihat pergerakan di depanku. Dua orang, masing-masing lelaki dan perempuan, tampak merogoh saku mantel atau tas mereka, dan mengeluarkan selembar kertas berwarna perak. Mereka menyerahkan lembaran mirip tiket pesiar ke pabrik Willy Wonka (hanya saja berwarna perak) itu kepada petugas yang kini bersandar di pintu kompartemen kami. Ia mengambil kedua karcis perak itu ogah-ogahan, menyobeknya, lalu menyerahkannya lagi pada kedua orang di depanku, kemudian menatapku.

Aku agak terkejut, tak yakin harus melakukan apa. Kuangkat kedua tanganku untuk menyatakan bahwa aku tidak punya karcis. Tapi petugas itu masih saja menatapku seolah aku hanya main-main.

“Tentu saja kau punya,” ucap perempuan di depanku dengan nada ketus. Aku menatapnya, tapi ia tidak menatapku. Ia menekuri buku di pangkuannya. 

“Coba lihat saku piyamamu,” ujar lelaki di sampingnya dengan nada lebih lembut. Aku menuruti ucapannya, dan merogoh saku piyama putihku yang bergambar bintang dan hewan-hewan dalam berbagai warna. Namun yang kutemukan hanyalah potongan kertas koran yang terlipat. Dengan ragu-ragu, kuangsurkan benda itu ke petugas yang mulai tampak tak sabar. Petugas itu menyambar kertas koran di tanganku dengan kesal, lalu menyobeknya, dan menyerahkannya lagi padaku. Lalu ia pergi.

Aku mengangkat alis mataku heran, mengangkat bahu sedikit, lalu mulai mengamati sekelilingku.

Aku sedang berada di sebuah kompatremen di dalam kereta api yang sedang melaju kencang. Meskipun, kupikir, badanku terhitung cukup tinggi, kursi yang aku duduki sepertinya didesain bagi orang-orang yang lebih tinggi lagi, karena ternyata kakiku masih menggantung, dan tidak menyentuh lantai kereta.

Di depanku, terdapat dua orang seusiaku yang mirip sekali satu sama lain, mulai dari model pakaian yang dikenakan, hingga wajah. Yang membedakan mereka hanya jenis kelamin, panjang rambut, dan ekspresi wajah. Yang perempuan tampak begitu dingin, sementara yang lelaki tampak lebih ramah. Dan kaki mereka menyentuh lantai kereta.

Memang bukan urusanku, tapi tetap saja kutanyakan, “Kalian kembar?”

“Tidak,” jawab yang perempuan singkat tanpa mengalihan pandangan dari bukunya. 

“Kami bahkan tidak mengenal satu sama lain,” jawab yang lelaki sambil tersenyum seolah memohon kemaklumanku atas sikap si perempuan. “setidaknya sampai kami duduk di kereta ini,” sambungnya, dan ditanggapi oleh dengusan tak setuju dari si perempuan.

Aku menganggap hal itu merupakan sebuah kebetulan yang sangat aneh. Mungkin saja mereka berbohong, tapi toh, meskipun ingin tahu, itu bukan urusanku. Akhirnya aku mengalihkan pandang ke luar jendela, menatap pemandangan yang berkelebat kencang, melamun. 

‘Seperti hari-hariku,’ kataku dalam hati. ‘Hari-hari dari masa lalu berkelebat kencang melewatiku. Tak lagi dapat kusentuh, tak lagi dapat kuubah. Seperti bukan lagi milikku…’

Aku menghela napas dan merasakan sakit di dada serta tenggorokanku. Aku mencoba sebisa mungkin untuk diam. Aku takut bila bergerak, aku malah akan menangis. 

Kurasakan laju kereta semakin berkurang. Merasa agak penasaran, aku bertanya ke mana kereta ini pergi pada dua penumpang di depanku tanpa menoleh. Dahiku masih tetap menempel ke jendela.

Seperti yang kuperkirakan, yang lelakilah yang menanggapi. “Kau mau ke mana?” jawabnya dengan pertanyaan yang lain. 

Aku diam. Mengangkat bahu sambil menghela napas perlahan, lalu diam lagi. “Mencari rutinitas…?” jawabku tak yakin, masih tanpa memandang lawan bicaraku. “Aku baru saja kehilangan SEMUA rutinitasku. Tiap hari mulai sekarang, tak akan pergi ke tempat yang sama lagi, tak akan bertemu orang-orang yang sama lagi. Tak akan ada perjalanan sebulan sekali ke Narnia lagi, tak akan bertemu Aslan berbentuk serigala lagi. Tak ada…” Aku sudah tak tahu lagi apakah aku hanya membatin atau benar-benar mengucapkannya. Andai aku benar-benar mengucapkannya, aku tak tahu apakah mereka (tepatnya si lelaki, karena tampaknya hanya ia yang mendengarkanku) mengerti apa yang aku katakan. Tak peduli, lah. 

Kereta semakin dan semakin melambat. Dari kejauhan, dapat kulihat sebuah stasiun berdiri tengah menanti kedatangan kereta ini.

“Kalau begitu, kau akan turun di sini,” kata yang lelaki. “Ini adalah Porpala, tempat bagi orang-orang yang sedang mencari,”.

Aku tak peduli apapun nama tempat ini. Ke mana pun tak masalah. Toh aku memang sedang dalam keadaan ‘terserah, lah’. 

Kereta berhenti. Aku turun dari kursi dengan setengah melompat. Baru kusadari ternyata aku tidak memakai alas kaki. Tampaknya aku dipindahkan ke sini saat aku sedang tidur di kamarku.

“Aku punya rencana,” kataku sambil melamun, dan berpegangan ke pintu kompartemen. Aku menoleh ke arah si lelaki, lalu berkata lagi, “Aku memang punya rencana… tapi aku masih mencari,”. Si lelaki hanya tersenyum, kemudian aku pun turun dari kereta. Hanya aku yang turun dari kereta. 

Porpala ternyata adalah tempat yang aneh. Hanya ada bentangan gurun yang dipeluk oleh serangkaian gunung. Tak ada bangunan lain selain stasiun. Orang-orang di sini, meski membaur, masing-masing tampak berada dalam kotak tak terlihatnya masing-masing. Semua tampak dalam keadaan bingung. Sebagian malah seperti berada dalam keadaan trans, atau bahkan tak berjiwa.

Aku mulai menelusuri tempat ini. Beberapa kali bertemu mata dengan beberapa orang yang sedang melakukan hal yang sama: mencari. Namun, begitu tahu bahwa masing-masing tak menemukan jawaban di mata satu sama lain, maka kami langsung mengalihkan pandang dan kembali mencari.

Akhirnya aku kembali ke stasiun, dan melihat bahwa kereta yang tadi kunaiki, yang bernama No Way Train, baru akan berangkat. Di kompartemen tempatku tadi duduk, kulihat si perempuan melirikku dengan dingin, lalu kembali tenggelam dalam bukunya. Si lelaki melambaikan tangan padaku. Aku diam saja. Kereta itu kembali melaju.

Aku duduk di salah satu bangku panjang di stasiun itu. Di sisi lain bangku itu, ada seseorang yang tampak begitu kacau sampai-sampai aku merasa khawatir, siapa tahu ia akan tiba-tiba menggangguku. Tapi aku tahu bahwa ia juga berada dalam kotak tak terlihatnya sendiri. Aku pun sama, berada dalam kotak tak terlihatku sendiri.

Menengadah ke langit yang berwarna kehijauan, aku baru menyadari, betapa menyedihkannya aku sampai harus berhenti di tempat seperti ini. 

(Hanny, 3 Juli 2009)