“Ride on a magic carpet”
Day 1:
[Ketika kau bertanya, ‘adakah karpet ajaib itu? Karpet yang dapat membawamu terbang ke tanah impian?’ aku hanya mengangkat bahu. Mungkin ada, mungkin juga tidak ada. Siapa yang tahu? Yang aku tahu, aku menyimpan satu karpet ajaibku sendiri. Karpet yang kubentangkan lima kali dalam satu hari. Beberapa hari mungkin aku beruntung dengan satu atau dua perjalanan bonus dengan karpetku. Perjalanan setengah pagi, atau setengah malam, ketika manusia-manusia lain di negeriku sudah pada terlelap dalam rutinitas.
Aku juga terlelap di atas karpetku. Terlelap dalam perjalanan sukmaku. Terkadang tersentak perlahan ketika karpetku melakukan manuver-manuver tak terduga. Tersentak ketika ia tiba-tiba berhenti karena menjumpai persimpangan. Persimpangan empat cabang, dan aku bahkan tidak tahu aku datang dari arah mana…]
Day 2:
[Hatiku berkata, aku harus memilih. Aku tidak bisa menjelajahi semua arah dengan sedikitnya jatah usiaku. Aku harus pintar-pintar memilih, begitu kuingatkan diriku…]
Day 3:
[Memandang dari kejauhan, arah Timur tampak bekilauan. Matahari terbit tampaknya tidak pernah beranjak dari sana. Di langitnya, berpendar sisa bintang-bintang kecil yang masih bersemangat menyapa fajar. Tanahnya sangat subur dalam pelukan rimbun pohon. Rumah kecil dari kayu mengintip dari sela hehijauan. Sangat kontras dengan istana emas berhiaskan ratusan jenis berlian di sampingnya. Keduanya seolah memanggilku rindu. Satu dengan pesona kehangatannya, satu dengan giur kejayaannya.
Sempat aku tergoda untuk mencambuk karpetku ke arah sana, tapi semakin mendekat, ternyata matahari semakin naik. Rasanya aku tidak akan tahan akan teriknya, jadi aku hela mundur karpetku. Namun begitu aku menjauh, matahari kembali bersembunyi. Kupikir, tentu saja, keagungan dan kenyamanan tampak sangat memesona dari kejauhan, tapi tidak akan dengan begitu mudahnya bisa dapat.]
Day 4:
[Tatapanku kemudian beralih ke arah berlawanan. Barat. Dibanding pemandangan yang sebelumnya kulihat di Timur, Barat menyajikan gambaran yang begitu abstrak. Warna-warna berputar seperti akan membuat sebuah bentuk, namun berhenti ketika aku merasa mulai memahaminya. Mereka lalu kabur, lalu menyatu kembali untuk membuat bentuk lainnya, dan selalu kabur sebelum aku dapat menggenggamnya.
Kadang warna-warna itu menjadi sesuatu yang indah dan membahagiakan meski tidak dapat kuterka wujudnya, kadang rasanya sangat sakit hingga jantungku serasa berhenti begitu melihatnya. Kadang hanya berupa bias-bias tipis yang membawaku teringat akan masa lalu. Di dunia ini, pikirku, ada juga hal-hal yang tidak dapat aku lihat wujudnya, tidak dapat aku terka rasanya, dan tidak dapat aku ingat namanya. Beberapa orang menyebutnya cinta, tapi aku merasa terlalu kecil dan takut untuk mengucapkannya.]
Day 5:
[Di Selatan tersuguh lagi sebuah tampilan yang berbeda. Cermin berbagai ukuran menjulang seolah tumbuh dari dalam perut bumi, berbaris rapi membentuk lingkaran. Satu per satu kudekati cermin itu dengan karpet ajaibku. Seluruhnya ada dua puluh empat, hitungku. Namun kesemuanya bukan cermin biasa. Masing-masing cermin memang menampilkan diriku, namun dalam tahapan yang berbeda-beda. Masing-masing menampilkan diriku dari tahun ke tahun. Dengan demikian, hanya cermin terakhir yang memantulkan diriku apa adanya.
Lama aku menatap bayangan dalam cermin, sebelum akhirnya bayangan itu berbicara-atau mungkin sebenarnya aku sendiri yang berbicara: “Hari ini, 24 tahun yang lalu, selamat hari lahir, diriku. Aku telah menempuh satu hari tahunku. Semoga hari esok usiaku, ada detik yang akan bergerak seirama jarumku… dan lalu aku tak lagi sendiri,” kemudian sekelebat warna seperti yang sebelumnya aku temukan di Barat muncul di pantulan, membentuk sesosok kabur manusia. Ia seperti hendak menggenggam tanganku, tapi ia tetap hanya kabut warna.]
Day 6:
[Ada matahari yang bersisian dengan bulan purnama begitu aku menuju Utara. Dua-duanya tampak begitu megah; dua benda angkasa agung yang selalu kupuja. Yang satu memberi panas yang tegas, namun menghidupi. Satunya redup namun melindungi. Mereka adalah dua yang menerangi langit hari-hariku, membesarkanku. Kini keduanya tampak sedikit berbeda dengan yang biasa. Mereka mulai renta. Pendarnya kemerahan; tidak lagi kuning dan kuat.
Aku meminta pada Tuhanku, jangan dulu Kau ambil mereka dariku. Mereka adalah segalanya bagiku. Tentu ada saat di mana aku mengeluh karena Matahari membakar terlalu panas, atau ketika bulan memutuskan untuk menyembunyikan sinarnya. Tapi keberadaan mereka, selamanya, itulah syukurku.]
Day 7:
[Perjalanan bonusku dengan karpet ajaibku berakhir sudah. Ketika aku turun dari karpetku nanti, kira-kira di mana aku akan menjejak? Apakah salah satu dari empat persimpangan yang kami kunjungi, atau kembali ke tempat asalku, ke tempat yang telah tergerus waktu? Aku berbisik kecil pada karpetku, semoga ia mau berbaik hati untuk menurunkanku di tempat terbaik…]
-
blacksmithwife posted this