Reblogged from:
Posted 1 week ago
48,436 notes
<A Kangaroo in Denmark eating an Orange?>

did-you-kno:

If you were thinking the same you are amongst 98% of the people. If not you are amongst 2 % whose mind think very differently.

Reblog and go to your tumblr page to see the result.

Reblogged from:
Posted 1 week ago
2,618 notes
did-you-kno:
Reblogged from:
Posted 1 week ago
2,873 notes
did-you-kno:






Japanese artist iori tomita transforms the scientific technique of preserving and dying organism specimens into an art form with his series, ‘shinsekai [toumei hyouhon]’ (‘new world transparent specimens’).
Source

did-you-kno:

Japanese artist iori tomita transforms the scientific technique of preserving and dying organism specimens into an art form with his series, ‘shinsekai [toumei hyouhon]’ (‘new world transparent specimens’).

Source

Reblogged from:
Posted 1 week ago
2,249 notes
&#8220;The original name for butterfly was flutterby&#8221;

“The original name for butterfly was flutterby”

(via did-you-kno)

Reblogged from:
Posted 1 week ago
11,560 notes
did-you-kno:


Source
Another game from Simogo from International Games Festival: Beat Sneak Bandit. I was interested to it&#8217;s interface once I saw it&#8217;s preview, and I was kinda&#8217; like, &#8216;Ha! I knew it,&#8217; when I saw that it was actually another product of Simogo. Before, I was addicted to this game named Bumpy Road, from the same company. The Story is about an old couple going on a travel to regain their memories. It reminds me a lot to the story from Disney&#8217;s UP. It was very beautiful, both the story and the graphic.
This time, the Beat Sneak Bandit kinda&#8217; remind me of Neighbor from Hell, but the one that catch me the most is the presence of some clocks. I think Simogo really likes to make a game with time and memory content&#8230; which makes me really want to play it&#8230; :)
Interested? Find more about the game here

Another game from Simogo from International Games Festival: Beat Sneak Bandit. I was interested to it’s interface once I saw it’s preview, and I was kinda’ like, ‘Ha! I knew it,’ when I saw that it was actually another product of Simogo. Before, I was addicted to this game named Bumpy Road, from the same company. The Story is about an old couple going on a travel to regain their memories. It reminds me a lot to the story from Disney’s UP. It was very beautiful, both the story and the graphic.

This time, the Beat Sneak Bandit kinda’ remind me of Neighbor from Hell, but the one that catch me the most is the presence of some clocks. I think Simogo really likes to make a game with time and memory content… which makes me really want to play it… :)

Interested? Find more about the game here

Week#4: 22 – 30 December 2011 “If you only have 9 days to live, what u will do each day?, write it”

Day 22: Ibu, ibu, ibu. Belajar dari ibu dan ingin menjadi ibu yang sehebat dirinya kelak. Ibu yang dapat memberikan nyawa pada rumah, serta yang pelukannya hangat dan menentramkan.

 

Day 23: Tidak ingin berhenti berharap. Tidak ingin berhenti bersyukur.

 

Day 24: Membersihkan hatiku dari ego, dan dengki. Melapangkan dada, menentramkan jiwa…

 

Day 25: Mengira kau mengerti bahwa aku berbeda. Tetapi kau juga berbeda. Menjadi unik, dan menjadi dirimu sendiri; pribadi yang aku suka.

 

Day 26: Menyelesaikan hutang-hutangku, urusan yang belum selesai.

 

Day 27: Anggap saja ini seperti mimpi. Tidak penting bagaimana kita memulainya, asal kita tahu kita menikmatinya.

 

Day 28: Berpikir sedikit tentang diriku, mengerti banyak tentang orang lain…

 

Day 29: Aku sedang kembali ke titik di mana aku merasa tidak mengenalmu. Bolehkah aku memulainya dari awal lagi? Mengenal dan lalu mengerti kamu…

 

Day 30: Berlari ke pelukanmu, terbang bersama melintasi sejuta negeri. Selamanya begitu…

Week#3: 15 – 21 December 2011 “7 days to write about good things today”

Day 15: Maafkan aku karena gagal melihatnya lebih awal, tapi bertemu denganmu adalah salah satu hal yang paling kusyukuri dalam hidupku.

 

Day 16: Di antara semuanya, kamulah yang paling mengerti aku. Kita selalu bersama sejak hari kamu lahir. Kamulah alasanku belajar berbagi. Kamulah ceriaku. Kamulah temanku, kamulah guruku, kamulah rekan kejahatanku. Kamu, adikku, selamat 22 tahun hari ini untukmu.

 

Day 17: Pernah suatu hari aku begitu marah akan masa laluku sehingga terpikir tak hanya ingin meninggalkan, tapi sampai melupakan. Kemudian kamu datang menegurku, ‘Kamu yang sekarang adalah produk dari masa lalumu, dan kamu yang sekarang adalah kamu yang paling aku cinta’. Kubilang padanya, ‘kamu betul, tapi maukah kamu tidak menjadi bagian dari masa laluku? Aku ingin kamu untuk saat ini. Selamanya hidup denganmu di titik ini’

 

Day 18: Bersama, bukan berarti menjadi kehilangan sebagian dari dirimu, tapi belajar untuk mengerti hatimu, dan kau belajar hatiku.

 

Day 19: Katamu aku adalah pribadi yang konservatif dan sulit untuk berubah. Berkubang dalam ketika sudah menemukan kondisi terbaikku. Coba kau tebak. Hari ini aku mencoba sesuatu yang baru, dan untuk beberapa detik awal, aku ragu. Lama-lama, kurasa tidak seburuk itu…

 

Day 20: Sebelum kamu, aku hanya mengerti tangis. Berkat kamu, aku menangis dan meminta maaf, juga menangis dan berterima kasih.

 

Day 21: Meneruskan yang terlupakan, dan sejenak melupakan yang sedang diteruskan.

Week#2: 8 – 14 December 2011 “7 days to write your own wise words”

Day 8: Orang tuamu telah memberimu nama yang baik, maka tidak inginkah kamu menjadi pribadi yang seindah namamu?

 

Day 9: Terkadang, kebahagiaan dapat kau temukan pada hal remeh-temeh di kehidupanmu seperti secangir teh hangat, lembutnya busa sabun, atau wangi harum dari dapur. Belajar untuk bersyukur, dimulai dari menghargai hal-hal kecil sehari-hari…

 

Day 10: Tuhan, maafkan saya yang baru mengetuk pintumu bila ada perlu. Tapi Tuhan, hanya padaMu aku bisa mengadu…

 

Day 11: Dan dua orang, yang dalam perjalanan menjadi mengenal satu sama lain, mengerti satu sama lain… pada satu titik, mereka lalu tidak ragu untuk berkata pada satu sama lain, “Inilah kamu,”

 

Day 12: Dia adalah pelindungmu yang paling hebat, tapi Dia jugalah yang paling kamu takuti.

 

Day 13: Katamu menyenangkan, begitu aku mengingatkan tentang hidupku yang seperti roller-coaster. Sekarang kita sudah sampai puncak, berhentilah merengek, dan nikmati sisa perjalanan.

 

Day 14: Terkadang, perasaanku sendiri tidaklah penting. Terkadang, kalah dari perasaanmu sendiri adalah salah. Berpura-pura menjadi kuat dan tegar untuk dirimu sendiri, untuk orang lain, dan menguatkan orang lain.

Week#1: 1 – 7 December 2011 “7 days to write fairy tale”

“Ride on a magic carpet”

 

Day 1:

[Ketika kau bertanya, ‘adakah karpet ajaib itu? Karpet yang dapat membawamu terbang ke tanah impian?’ aku hanya mengangkat bahu. Mungkin ada, mungkin juga tidak ada. Siapa yang tahu? Yang aku tahu, aku menyimpan satu karpet ajaibku sendiri. Karpet yang kubentangkan lima kali dalam satu hari. Beberapa hari mungkin aku beruntung dengan satu atau dua perjalanan bonus dengan karpetku. Perjalanan setengah pagi, atau setengah malam, ketika manusia-manusia lain di negeriku sudah pada terlelap dalam rutinitas.

Aku juga terlelap di atas karpetku. Terlelap dalam perjalanan sukmaku. Terkadang tersentak perlahan ketika karpetku melakukan manuver-manuver tak terduga. Tersentak ketika ia tiba-tiba berhenti karena menjumpai persimpangan. Persimpangan empat cabang, dan aku bahkan tidak tahu aku datang dari arah mana…]

 

Day 2:

[Hatiku berkata, aku harus memilih. Aku tidak bisa menjelajahi semua arah dengan sedikitnya jatah usiaku. Aku harus pintar-pintar memilih, begitu kuingatkan diriku…]

 

Day 3:

[Memandang dari kejauhan, arah Timur tampak bekilauan. Matahari terbit tampaknya tidak pernah beranjak dari sana. Di langitnya, berpendar sisa bintang-bintang kecil yang masih bersemangat menyapa fajar. Tanahnya sangat subur dalam pelukan rimbun pohon. Rumah kecil dari kayu mengintip dari sela hehijauan. Sangat kontras dengan istana emas berhiaskan ratusan jenis berlian di sampingnya. Keduanya seolah memanggilku rindu. Satu dengan pesona kehangatannya, satu dengan giur kejayaannya.

Sempat aku tergoda untuk mencambuk karpetku ke arah sana, tapi semakin mendekat, ternyata matahari semakin naik. Rasanya aku tidak akan tahan akan teriknya, jadi aku hela mundur karpetku. Namun begitu aku menjauh, matahari kembali bersembunyi. Kupikir, tentu saja, keagungan dan kenyamanan tampak sangat memesona dari kejauhan, tapi tidak akan dengan begitu mudahnya bisa dapat.]

 

Day 4:

[Tatapanku kemudian beralih ke arah berlawanan. Barat. Dibanding pemandangan yang sebelumnya kulihat di Timur, Barat menyajikan gambaran yang begitu abstrak. Warna-warna berputar seperti akan membuat sebuah bentuk, namun berhenti ketika aku merasa mulai memahaminya. Mereka lalu kabur, lalu menyatu kembali untuk membuat bentuk lainnya, dan selalu kabur sebelum aku dapat menggenggamnya.

Kadang warna-warna itu menjadi sesuatu yang indah dan membahagiakan meski tidak dapat kuterka wujudnya, kadang rasanya sangat sakit hingga jantungku serasa berhenti begitu melihatnya. Kadang hanya berupa bias-bias tipis yang membawaku teringat akan masa lalu. Di dunia ini, pikirku, ada juga hal-hal yang tidak dapat aku lihat wujudnya, tidak dapat aku terka rasanya, dan tidak dapat aku ingat namanya. Beberapa orang menyebutnya cinta, tapi aku merasa terlalu kecil dan takut untuk mengucapkannya.]

 

Day 5:

[Di Selatan tersuguh lagi sebuah tampilan yang berbeda. Cermin berbagai ukuran menjulang seolah tumbuh dari dalam perut bumi, berbaris rapi membentuk lingkaran. Satu per satu kudekati cermin itu dengan karpet ajaibku. Seluruhnya ada dua puluh empat, hitungku. Namun kesemuanya bukan cermin biasa. Masing-masing cermin memang menampilkan diriku, namun dalam tahapan yang berbeda-beda. Masing-masing menampilkan diriku dari tahun ke tahun. Dengan demikian, hanya cermin terakhir yang memantulkan diriku apa adanya.

Lama aku menatap bayangan dalam cermin, sebelum akhirnya bayangan itu berbicara-atau mungkin sebenarnya aku sendiri yang berbicara: “Hari ini, 24 tahun yang lalu, selamat hari lahir, diriku. Aku telah menempuh satu hari tahunku. Semoga hari esok usiaku, ada detik yang akan bergerak seirama jarumku… dan lalu aku tak lagi sendiri,” kemudian sekelebat warna seperti yang sebelumnya aku temukan di Barat muncul di pantulan, membentuk sesosok kabur manusia. Ia seperti hendak menggenggam tanganku, tapi ia tetap hanya kabut warna.]

 

Day 6:

[Ada matahari yang bersisian dengan bulan purnama begitu aku menuju Utara. Dua-duanya tampak begitu megah; dua benda angkasa agung yang selalu kupuja. Yang satu memberi panas yang tegas, namun menghidupi. Satunya redup namun melindungi. Mereka adalah dua yang menerangi langit hari-hariku, membesarkanku. Kini keduanya tampak sedikit berbeda dengan yang biasa. Mereka mulai renta. Pendarnya kemerahan; tidak lagi kuning dan kuat.

Aku meminta pada Tuhanku, jangan dulu Kau ambil mereka dariku. Mereka adalah segalanya bagiku. Tentu ada saat di mana aku mengeluh karena Matahari membakar terlalu panas, atau ketika bulan memutuskan untuk menyembunyikan sinarnya. Tapi keberadaan mereka, selamanya, itulah syukurku.]

 

Day 7:

[Perjalanan bonusku dengan karpet ajaibku berakhir sudah. Ketika aku turun dari karpetku nanti, kira-kira di mana aku akan menjejak? Apakah salah satu dari empat persimpangan yang kami kunjungi, atau kembali ke tempat asalku, ke tempat yang telah tergerus waktu? Aku berbisik kecil pada karpetku, semoga ia mau berbaik hati untuk menurunkanku di tempat terbaik…]